Wednesday, 10 December 2008

Desember ( Haruskah ) Kelabu ?


Desember tiba lagi, bulan kedua belas dari almanak Masehi, bulan perenungan jejak langkah surut sebelas bulan ke belakang, bulan suka cita merayakan "achievement" selama setahun. Setiap Akhir berarti finish. Bicara penentuan, bicara sesuatu yang tak dapat diubah lagi, karena satu dimensi telah hilang yaitu dimensi “kesempatan”.
Pada kata “akhir”, berarti adalah ujung, yang tak bercelah dan tak dapat diterobos untuk menjadi “tak akhir”.
Akhir, terkait dengan suatu ukuran pada suatu dimensi, bisa jarak, bisa waktu.
Biasanya pada suatu waktu yang “hampir” akhir, evaluasi dan refleksi akan berjalan dengan sendirinya. Pada dasarnya, fitrahnya permenungan dalam “saat akhir” akan dilakukan oleh setiap manusia. Refleksi ini biasanya disebut: Penyesalan, kegagalan, keberhasilan, kesuksesan. Juga bisa kesombongan, penyangkalan, alasan dan kesementaraan.
Untungnya, manusia pandai menghibur diri. Tahu dan paham bahwa waktu tak bisa terulang, maka manusia memodifikasi sedemikian rupa sehingga seakan-akan waktu adalah sirkuler bukan linier.
Dibuatlah hari yang berganti namun berulang. Senin, Selasa, Rabu dan senin kembali. Bulan yang berulang, seperti Januari, Februari, Maret, dan pada akhirnya terdapat januari lagi di tahun berikutnya. Hanya tahun saja yang tak bisa dibohongi.
Namun celakanya, dalam tahun pun dimodifikasi sedemikian rupa menjadi tahun dengan shio tertentu dan dapat berulang, atau dalam dekade tertentu yang spirit dan semangatnya dapat diulang: (contoh: tahun 20-an dengan vintage dan bohemian style, retro dll tahun 2000-an awal pun trend mode dan gaya kembali diulang.)
Sudah jelas waktu tak bisa terulang, dan wajah keriput tak dapat dikembalikan menjadi kencang, maka diciptakanlah berbagai gagasan “semu” yang sejatinya justru menjauhkan diri dari kenyataan.
Penentuan tentang hari esok tentu saja adalah apa yang kita lakukan saat ini. Yang kemarin, hanya sejarah, yang dapat dipelajari namun tak dapat diperbaiki atau pun diagung-agungkan dengan perasaan sentimentil bin romantik.
Manusia yang terlalu bersandarkan pada kenangan adalah manusia yang tak mampu menghadapi masa depan dengan jantan, tegas dan terhormat. ( kata orang sich ... karena saya pun tak kuat lari dari kenangan ... )
Heru Hastowo
( dari berbagai referensi, ilustrasi comotan dari www.art.com )

No comments: